Percakapan tentang AI hampir selalu berhenti di lapisan yang paling terlihat: model apa yang dipakai, berapa parameternya, berapa skor benchmark-nya.
Tapi begitu sebuah perusahaan memutuskan menjalankan AI di infrastrukturnya sendiri, pertanyaan pertama yang menentukan proyek itu jalan atau mandek justru jauh lebih membosankan: bagaimana GPU yang terpasang di rak server sampai ke aplikasi yang membutuhkannya?
Jawabannya menentukan berapa banyak tim yang bisa memakai satu kartu, seberapa cepat model Anda merespons, dan berapa besar aset paling mahal di data center Anda menganggur.
Model AI, pada dasarnya, bukan program. Ia kumpulan model weights: file besar berisi angka, yang tidak melakukan apa pun sampai ada perangkat lunak yang memuatnya ke memori.
Setiap sambungan di rantai itu adalah titik keputusan arsitektur. Sambungan terakhir, antara mesin dan silikon, paling sering diabaikan sampai proyeknya terlanjur berjalan.
Satu data center-class GPU bisa bernilai setara beberapa server biasa, dan waktu tunggu pengadaannya sering diukur dalam bulan, bukan hari.
GPU yang menganggur semalaman karena dikuasai satu tim adalah pemborosan modal yang jauh lebih mahal daripada server CPU yang idle.
| PCI Passthrough | vGPU | |
|---|---|---|
| Pembagian | Satu kartu, satu VM | Satu kartu, banyak VM |
| Performa | Mendekati bare metal | Sesuai porsi slice |
| Cocok untuk | Training dan fine-tuning | Inference dan pengembangan |
| Lisensi | Tidak ada | Lisensi vGPU vendor |
Passthrough melepas kartu dari host dan menyerahkannya utuh ke guest, sehingga VM berbicara langsung ke silikon. Syaratnya IOMMU aktif di BIOS dan parameter kernel.
vGPU memecah satu kartu enterprise menjadi beberapa GPU virtual. Tesla T4 16 GB, misalnya, bisa di-slice menjadi delapan vGPU berukuran 2 GB.
Angka terakhir itu biasanya yang paling membuka mata, dan hampir selalu menjadi dasar pembicaraan anggaran yang jauh lebih sehat.
Baca artikel lengkapnya →Pustaka Three.js tidak tersedia.
Periksa koneksi ke cdnjs.cloudflare.com, lalu muat ulang halaman ini.